Air mata pilu,
Setia menemani tubir mataku,
Seakan mencoba menidakkan kebenaran,
-engkau aku harus lupakan,
Terlerai kasih yang daku patrikan,
Sedari awal kita sangsi- apa mungkin cinta kan
bersemi.
Ternyata,
Kau tidak ku punya,
Tergelincir butiran memori yang memantul di
cermin hatiku,
Satu persatu,
aku akur.
Embun pagi tidak lagi mesra,
Enggan menyejukkanku dengan pepayung bahagia,
Hanya kurasakan titisan-titisan luka,
Menirusi sekeping hati yang lara,
Kasih,
kerinduanku padamu yang kucinta,
Akhirnya mampir ke penghujung nestapa,
Dan rindu itu,
Terlerai akhirnya..
~Salam kasih~
Tia Shm
No comments:
Post a Comment